Berita

Geocell Sebagai Pelindung Tebing Sungai

Senin Pon, 8 Juni 2015 08:41 WIB 3505

foto

Geocell merupakan salah satu jenis bahan geosintetis terbuat dari HDPE (High Density PolyEthylene). Dengan melihat bentuk geocell dalam keadaan terpasang yang menyerupai sarang tawon, diperkirakan cukup efektif untuk bangunan pelindung tebing terhadap adanya erosi. Untuk membuktikan hal tersebut, telah dilakukan pemasangan geocell di K. Mungkung yaitu di Desa Patihan Kelurahan Karang Tengah Kabupaten Sragen. Geocell di Indonesia baru digunakan untuk lapisan jalan raya, sedang untuk pelindung tebing terhadap erosi baru dicobakan pada penelitian ini.

Ada beberapa pabrik yang memproduksi geocell yaitu antara lain Presto Products Company dan US Products Inc. Melihat spek teknis kedua pabrik tersebut mengenai geocell, dapat diperkirakan bahwa mengenai bahan dan dimensi geocell sudah standar. Dalam penelitian digunakan geocell produksi Presto tipe GW20V041029, yaitu dengan dimensi tiap sel 224 mm arah memanjang dan 259mm arah melintang, kedalaman sel 10cm, pada arah memanjang jumlah sel 29 buah sedang pada arah melintang berjumlah 10 buah. Selebar satu meter geocell di atas diisi dengan tanah dan gebalan rumput sedang yang di bawahnya diisi dengan beton.Dalam penelitian ini secara teknis ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai constructability dan efektifitas penggunaan geocell sebagai pelindung tebing, sedang secara ekonomis ditujukan untuk memperoleh perbandingan harga pelaksanaan antara penggunaan geocell dan penggunaan lining beton.

Keunggulan

  1. Usia pakai yang lama untuk lereng yang stabil.
  2. Mudah dibawa dan pemsangannya di lokasi proyek.
  3. Cepat dan sederhana pemasangannya.
  4. Mudah dibongkar dan dapat digunakan kembali.
  5. Tahan terhadap biologi dan kimia dari tanah.

Kelemahan

Karena untuk mendapatkan bahan geocell masih import dari Presto Products Company dan US Products Inc maka harga bahan geocell masih mahal dibandingkan dengan pelindung tebing sungai konvensional. Pelindung tebing sungai dengan geocell ini kurang baik jika dibangun pada lereng tanah timbunan/urugan.

Prinsip Kerja

  1. Pembersihan lapangan
  2. Pengukuran kembali dengan pemasangan beberapa patok
  3. Pembuatan galian tanah untuk pemasangan pondasi dengan batu kali yang dilengkapi dengan anker untuk pengikat geocell
  4. Pembentukan lereng tebing sesuai desain perencanaan dengan pekerjaan urugan yang dipadatkan maupun pekerjaan galian.
  5. Bila tebing sudah terbentuk sesuai rencana geotextile dihampar sebagai lapisan permukaan tanah, kemudian tanah diurugkan diatas geotextile (non woven) setebal 15 cm lalu dipadatkan.
  6. Pemasangan geocell pada lereng tebing sungai yaitu geocell dibentangkan yang semula dimensi arah memanjang 8 cm menjadi 6,25 m, sedang arah melintang semula 3,33 m menjadi 2,70 m dan untuk mempertahankan bentuk geocell agar tidak berubah/tetap stabil digunakan anker yang terbuat dari besi tulangan dengan diameter 10 mm, panjang 1,00 m sedangkan sambungan antar lembar geocell digunakan kawat.
  7. Setelah posisi geocell sesuai desain rencana dan cukup stabil maka geocell dapat diisi dengan beton dari bawah hingga jarak 1,00 m dari tepi atas selanjutnya bagian sisi atas selebar 1,00 m diisi dengan tanah yang diberi gebalan rumput.
  8. Pembuatan saluran drainase di ujung hulu bangunan dan tangga dari pasangan batu kali di ujung hilir bangunan. Saluran drainase dapat berfungsi untuk mengalirkan air yang akan masuk ke sungai agar tidak langsung lewat puncak tebing sungai, sedang tangga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam memudahkan naik/turun tebing waktu ke sungai.

Kriteria Desain

Dengan selesainya pekerjaan tanpa mengalami kendala teknis yang berat, dan dapat terwujutnya pelindung tebing dari geocell berarti penggunaan geocell untuk bangunan tersebut cukup constructable. Untuk efektifitas bangunan sesuai perencanaan yaitu tebing harus tahan erosi untuk kecepatan air 5 m/dt, masih belum bisa dibuktikan, yaitu harus menunggu terjadinya banjir besar. Diharapkan pembuktian dapat dilakukan pada pekerjaan monitoring pada tahun tahun berikutnya.

(sumber: http://litbang.pu.go.id/)