Berita

Tips Penempatan Jendela

Rabu Kliwon, 12 November 2014 09:49 WIB 3007

foto

Sebuah rumah pasti memiliki jendela. Jendela merupakan elemen transisi dari desain arsitektur dan interior yang menghubungkan , baik secara visual dan fisik, satu ruang ke ruang lain, maupun bagian dalam dengan luar.

Untuk negara yang beriklim tropis lembab seperti Indonesia, keberadaan jendela sangat penting artinya. Apalagi jika bukan untuk ventilasi secara alami.

Namun, sejatinya fungsi jendela tidak sebatas sebagai ventilasi. Jendela mampu memberi nilai estetika pada sebuah bangunan juga pada ruangan Anda.

Menentukan ukuran, bentuk dan penempatan jendela pada sebuah ruang, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  • Pemandangan apa yang bisa dinikmati melalui bukaan tersebut?
  • Bagaimana pemandangan tersebut dibingkai
  • Bagaimana pandangan visual berubah saat kita bergerak di dalam ruang?

Jendela bukanlah sekedar bingkai pandangan. Saat menerangi ruang di siang hari dan memberi ventilasi, jendela juga memperlihatkan pandangan yang lebih sempit dari yang diharapkan. Jika ruang luar memiliki pandangan yang kurang sedap dipandang mata, jendela dapat membantu menghalanginya. Caranya adalah dengan memecah, menyaring atau membelokkan pandangan.

  • Memecah pandangan dengan mengelompokkannya ke dalam beberapa jendela yang lebih kecil.
  • Membelokkan perhatian, menjauhi pandangan.
  • Menyaring pandangan, dengan menempatkan obyek atau pernik dekoratif pada lubang jendela.
  • Jika tidak ada pemandangan, ciptakan pemandangan berupa taman, kebun atau kolam ikan.

Pertimbangan penempatan jendela

Jendela mempengaruhi tata letak fisik perabot di dalam ruang. Ttempatkan jendela sedemikian, sehingga menyisakan ruang untuk posisi perabot. Saat menempatkan jendela pada bidang dinding, tentunya harus dipertimbangkan berapa banyak sisa bagian dinding diantara bukaan jendela yang ada. Selain itu, apakah ukuran dan proporsi yang ada dapat dimanfaatkan untuk menempatkan perabot di depan jendela?

Tinggi bagian bawah kusen jendela, mempengaruhi benda apa saja yang dapat ditempatkan dibawahnya. Jika lubang jendela diperluas hingga bagian bawah sampai ke lantai, maka ruangan yang dapat dimanfaatkan untuk menempatkan perabot menjadi berkurang. Kelebihannya, jenis jendela seperti ini akan meningkatkan kontinuitas visual antara ruang eksterior dan interior. Dan, jika bidang dinding dianggap sangat bernilai, maka jendela dapat diposisikan di atas dinding, atau bahkan dari atap.

Efek Silau dan Panas

Indonesia yang beriklim tropis lembab, dikaruniai banyak limpahan cahaya matahari. Jika terlalu banyak terdapat lubang jendela, maka matahari yang masuk ke dalam ruang dapat membuat ruang menjadi panas. Untuk mengurangi radiasi matahari yang tinggi pada ruangan, salah satunya dengan mengatur posisi jendela.

Jika memungkinkan, batasi penempatan jendela yang menghadap ke arah barat. Cahaya matahari sore diyakini dapat meningkatkan temperatur ruang. Untuk mengatasinya, buat jendela dengan ukuran kecil yang ditempatkan agak ke atas, sehingga berada pada area bayangan atap teritis. Selain itu, bisa juga digunakan lapisan untuk mereduksi seperti kerai, gorden atau kisi-kisi yang dibuat permanen di depan jendela.

Elemen pelindung horizontal cocok untuk posisi matahari tinggi; digunakan pada fasade utara dan selatan, serta barat daya, tenggara, barat laut dan timur laut meski kurang efektif. Bentuk paling sederhana adalah tritisan atap, lantai yang menjorok keluar atau balkon, krey atau awning. Sedangkan untuk posisi matahari rendah, yaitu pada fasade barat dan timur, tepat jika digunakan elemen pelindung vertikal. Pandangan keluar bangunan masih bisa terjadi melalui celah-celah vertikal yang terlindung dari cahaya matahari. Bentuk yang paling sederhana digunakan adalah deretan kolom structural yang rapat berbentuk lamella, panil kayu atau kain kanvas yang dapat dilipat, atau profil logam yang dipasang vertikal pada fasade.

Masalah yang berhubungan dengan cahaya matahari adalah efek silau yang disebabkan oleh kontras berlebihan antara terang dari bukaan jendela dan permukaan dinding yang lebih gelap, yang berada di sebelahnya. Saat menghadapi efek silau, penempatan jendela sama pentingnya dengan ukurannya. Kondisi optimal adalah dengan menyeimbangkan pencahayaan sekurang-kurangnya dari dua arah, yaitu dari dua dinding atau satu dinding dan langi-langit. Lubang cahaya dari atap, dapat mengurangi cahaya matahari langsung. Untuk ruangan dengan jendela yang bagian bawahnya mendekati lantai, efek silau dapat disebabkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan tanah di luar. Efek silau dari tanah dapat dikurangi melalui pemanfaatan bayangan pohon, penggunaan tirai atau kisi-kisi horizontal yang ketinggian vertikalnya dapat diatur.